HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

PROF. DR. DEWI FORTUNA ANWAR  Resep Tetap Aktif & Pernikahan Langgeng

By On Mei 11, 2026

 

Dia salah satu wanita hebat Indonesia. Seorang ilmuwan, peneliti utama pada kajian politik luar negeri Indonesia dan ASEAN di BRIN (Badan Riset dan Inovasi Indonesia). Hingga saat ini, masih  menjabat sebagai Ketua Dewan Pengurus The Habibie Center. 

Di usianya yang menjelang tujuh dasawarsa, Prof. Dewi Fortuna Anwar, masih tetap aktif bekerja di kantornya di BRIN dan melakukan perjalanan ke mancanegara untuk menghadiri beragam undangan. 

Bagaimana beliau bisa mempertahankan kinerjanya hingga tetap aktif dan produktif diusianya yang  tahun ini menginjak usia 68 tahun? Dan apa resep pernikahannya tetap harmonis hingga 43 tahun? Serta apa kegiatan menyenangkan yang beliau lakukan saat waktu luang?

Berikut obrolan hangat www.majalahwanita.com dengan Prof. Dewi di sebuah Sabtu sore, di kediamannya yang nyaman dan asri di Cireundeu, Tangsel. 

Harus Selalu Update 

Konrad Adenauer Stiftung (KAS) Maritime Security Advisory Network in Brussels & Berlin.
Prof. Dewi dengan ramah menyambut kedatangan majalahwanita. Wajahnya terlihat segar dan berseri. Padahal baru beberapa hari beliau kembali dari Brussels dan Berlin, menghadiri serangkaian pertemuan. 

Ketika ditanya apa resepnya sehingga beliau masih tetap bisa aktif sebagai peneliti ahli utama di BRIN? 

Dengan gaya bicara khasnya, tegas dan tempo suara yang cepat, Prof. Dewi yang pernah  beberapa kali menduduki jabatan struktural sebagai Eselon 1 (yang mana hal ini sangat jarang bisa dicapai wanita Indonesia), menjelaskan,

“Saya menjabat sebagai Eselon 1 di Setneg tahun 1998-1999. Lalu Eselon 1 di LIPI pada tahun 2001-2010, selanjutnya Eselon 1 di Sekretariat Wakil Presiden, Setneg tahun 2010 sampai tahun 2017. Kemudian saya kembali menjadi peneliti di LIPI tahun 2018, menjelang usia saya 60 tahun.”

Menurut UU Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU Sisnas IPTEK) No.19 tahun 2019, Peneliti Ahli Utama pensiun pada usia 70 tahun, sebelumnya pada usia 65 tanun. Dan LIPI digabung dalam BRIN pada tahun 2021. 

“Dan pada tahun 2017 sampai  Agustus 2018 saya menjadi Profesor Tamu di RSIS NTU Singapura,” jelas Prof. Dewi, yang pernah menjabat sebagai Asisten Wapres bidang Globalisasi untuk Wapres B.J. Habibie pada awal tahun 1998. Dan setelah Pak Habibie menjadi Presiden, wanita yang menyukai model rambut pendek yang praktis ini, menjadi Asmensesneg Urusan Luar Negeri/ Jubir Presiden pada tahun 1998 sampai 1999. 

Lalu bagaimana beliau mempertahankan kinerjanya hingga saat ini? “Jaga kesehatan fisik dan mental. Dan tetap terus belajar,” tegasnya. “Apalagi kalau kita bergerak di bidang akademis, berarti kita harus selalu update dan  berkarya. Tetap memiliki kemampuan untuk berkarya, untuk menulis paper, untuk publikasi karya dan menjadi pembicara. Ya kan itu pekerjaan seorang peneliti dan seorang akademis seperti itu, selama tidak pikun,” tambahnya.

Menurut Prof. Dewi, apalagi sekarang ini dengan kemajuan teknologi, banyak sekarang pertemuan-pertemuan seminar, tidak perlu dihadiri secara fisik lagi. Bisa lewat online, zoom, pakai macam-macam platform sekarang. “Orang yang secara fisik nggak bisa bergerak pun tetap bisa berkarya kan? Dan sekarang kalau mencari informasi, kita cukup berselancar di dunia maya saja kan? Ada virtual library dan bisa mendapatkan artikel dan sebagainya,” ungkap Prof. Dewi yang meraih gelar doktornya di Monash University, Melbourne, Australia. 

Sempat Sekolah di Kampung

Kunjungan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) Maritime Security Advisory Network (MSAN) ke Brussels & Berlin, 19-25 April 2026.

Kedua orang tuanya adalah akademisi yang pernah menjadi dosen bahasa Inggris di IKIP Bandung, ayahnya  Prof. Dr. Khaidir Anwar, seorang ahli sosiolingustik dan sang Ibunda Dra. Wahidar Khaidir, MLS, dosen di IKIP, Bandung.  Sang ayah juga pernah mengajar pada School of Oriental and African Studies, University  of London di Inggris, selama sepuluh tahun. Dengan membawa seluruh keluarganya, istri dan ketiga anak perempuannya.

Prof. Dewi, adalah anak pertama dari tiga bersaudara dan menghabiskan sekolah menengah, juga menempuh pendidikan sarjana dan magister di London, Inggris.

Meski demikian, dia tidak pernah melupakan kampung halaman kedua orangtuanya di Sumatra Barat. Betapa tidak, Dewi kecil sempat  tinggal di kampung cukup lama, “Saya tinggal di kampung, namanya Koto Kociak, Tujuh Koto Talago, Kabupaten 50 Koto, sekitar 10 tahun. Saya SD kelas 1 sampai kelas 6 di Koto Kociak dan SMP kelas 1 sampai kelas 3 di SMP Dangung-Dangung,” jelasnya. 

“Bukan atas suruhan orangtua, tapi karena saya memang mau. Jadi saya di kampung tidak hanya bersekolah biasa, tapi juga belajar tentang adat dan agama,” tambahnya. Dan putri sulungnya, Laraswati juga sempat mengenyam pendidikan di kampung saat SD kelas 3 sampai kelas 6.

Dengan bersekolah di kampung, ia jadi paham dengan akarnya. Darimana dia berasal dan bagaimana adat istiadat kampung halaman orang tuanya. “Jadi kita tahu akar kita, karena itu yang penting. Ibu saya bilang, ‘Pohon yang kuat itu akarnya harus dalam, jadi dia kokoh. Pohon yang kokoh, kalau kena angin tetap bertahan, tetapi pucuknya tetap bisa menjulang,’ demikian Prof. Dewi mengulang pesan sang ibudanda tercinta. Sebuah filosofi hidup yang sangat dalam maknanya.   

“Saya diajari ibu saya harus berani, punya rasa percaya diri dan melihat semua budaya itu ada plus minusnya. Dan kalau kita belajar dengan benar tentang budaya kita, maka kita bisa menghargai budaya kita. Tapi kita juga jangan fanatik terhadap budaya kita. Yang penting kita harus tahu siapa diri kita, punya akar yang kuat, sehingga tidak mudah diombang-ambing, tidak mudah terbawa arus pergaulan. Dan harus bisa menempatkan diri, pulang kampung penting ke luar negeri juga penting. Kalau masuk kampung jangan grogi, kalau ke London atau New York juga jangan grogi. Jadi, jangan jadi orang udik di New York, jangan jadi orang New York di kampung.” 

Ibu dua orang anak yang keduanya sudah menikah ini, lalu memberi contoh. Ketika tinggal di London, ia tetap bergaul dengan teman-temannya yang datang dari mancanegara. Ia tetap datang ke pesta atau nongkrong di kafe. Namun, Dewi yang menghabiskan masa remaja dan dewasanya di London, tidak pernah mau ikut minum, berdansa-dansi dan sebagainya. Begitu juga saat bulan Ramadan, meski berkumpul dengan teman-temannya di kafe, ia tidak ikut makan.Tentu saja dia dianggap kolot oleh teman-temannya. “Kok kamu kolot?” Dituduh demikian, ia tidak marah, malah dengan santai menjawab, “Ya saya memang kolot. Itu prinsip saya. Tapi bukan berarti kampungan. Kita nggak boleh salah pegang garpu dan sendok, table manners tetap harus belajar, tapi ada prinsip-prinsip yang harus dipegang, yaitu agama!” tegasnya. 

Kegiatan Menyenangkan Saat Waktu Luang

Tetap aktif sebagai profesor peneliti utama di BRIN
Di tengah kesibukannya, Prof. Dewi tetap bisa mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang menyenangkan. 

“Saya suka baca novel juga nonton fim,”ungkapnya santai. “Saya senang menonton film-film klasik di Youtube. Juga baca novel  di iPad. Selain itu, saya main puzzle juga teka-teki silang di iPad. Pokoknya, saya bisa asyik sendiri dengan iPad saya,” ungkapnya. 

Bagaimana dengan olah raga? “Sebetulnya saya senang jalan kaki ya, tapi karena di sini  tidak memungkinkan,  jadi di rumah saya aerobik ringan,  low impact yang saya lihat dari Youtube.”

Suka memasak atau berkebun? “Wah saya tidak suka kegiatan domestik,” sahutnya dengan tawa.  Kalau sedang berdua dengan suaminya, Yos Rizal Anwar, seorang engineering yang berkarier di perminyakan, yang sibuk memasak sang suami. “Sedang saya hanya menjadi asisten,” katanya tertawa.

“Di keluarga kami memang yang jago memasak para pria. Sedang wanitanya yang mencicipi hasil masakannya,” ungkap Prof. Dewi. 

Sesekali  saat sedang penat, dia bersantai dengan menikmati pijatan pemijat langganannya.  Bagaimana dengan  belanja? “Saya belanja sesuai kebutuhan saja. Kalau sedang keluar negeri, terutama Korea Selatan, saya selalu mencari skin care yang bagus tapi tidak terlalu mahal.”

Kalau sedang berada di luar negeri Prof. Dewi lebih senang kemana-mana berjalan kaki. Dan selalu menyempatkan mengunjungi museum-museum. “Saya sangat senang mengunjungi museum-museum saat berada di luar negeri, karena bisa belajar banyak tentang budaya suatu bangsa melalui museum itu,” tuturnya. 

Resep Pernikahan Langgeng

Tahun ini, pernikahan Prof. Dewi dan suami tercinta tepat 43 tahun. Dia merasa beruntung memiliki pasangan hidup yang sangat mendukung kariernya. 

“Bayangkan, saat anak pertama saya masih usia 1 tahun, saya melanjutkan S3 di Australia. Suami tidak berkeberatan. Dia harus menjadi single parent selama sekian lama. Memang sih saya pulang pergi Indonesia- Australia, tapi tetap saja lebih banyak waktu kami berpisah.  Kebetulan juga ada Etek (Tante) dari  kampung, yang bersedia tinggal di rumah kami, menjaga anak kami dan ikut mengawasi di rumah. Beruntung kami selalu dapat ART yang bisa diandalkan. Tanpa ada dukungan keluarga dan adanya ART akan sulit sekali.”

Lalu apa resep penikahannya yang langgeng dan harmonis? Nenek satu cucu ini menjawab tegas, “Trust!” Ya, saling percaya menurut Prof. Dewi, sangat penting dalam pernikahan. 

Menurutnya, kalau tidak ada saling percaya, akan sulit pernikahan bertahan. Ia banyak bekerja di lingkungan yang lebih banyak pria daripada wanita. Kalau suaminya tidak percaya padanya, cemburu, posesif yang berlebihan, tentu akan  berantakan. Demikian juga, saat ia mengambil pendidikan S3 di Australia, meninggalkan suaminya dalam waktu lama. Godaan itu sangat banyak. 

“Jadi kunci pertama adalah trust. Tanpa trust hal itu tidak bisa. Yang kedua agama. Itu penting sekali. Begitu juga dalam jabatan, yang amanah. Apakah kita akan menyalahgunakan posisi kita atau tidak. Itu kan tergantung dari dalam diri kita. Bukan sekadar mengikuti aturan yang berlaku,” ungkapnya. 

Rupanya, dengan memegang prinsip-prinsip penting itulah, yang membuat rumah tangga Prof. Dewi dan suami tercinta tetap harmonis hingga saat ini. Kebetulan saat  menjelang sang suami purna bakti dari Mobil Oil, mereka yang semula tinggal di Bekasi, mencari rumah yang bisa mewujudkan impian mereka: memiliki halaman cukup luas, ada pohon buah-buahan, tanaman hias serta gemericik kolam ikan hias. Dan itu semua ada di  tempat tinggal mereka saat ini, sejuk, asri dan bisa cukup menampung, saat ada acara keluarga besar. Sangat menyenangkan.***Marlini Hasan

Foto-foto: Dok. Pribadi 

#prof.dr.dewifortunaanwar
#profrisetBRIN
#thehabibiecenter
#BRIN

 ANAK TIDAK PUNYA CITA-CITA. NORMALKAH?

By On Mei 07, 2026

CURHAT: Saya ibu dari dua orang anak remaja. Dua-duanya perempuan. Yang besar kelas 2 SMA dan yang bungsu kelas 3 SMP.  Saat santai saya bertanya kepada anak-anak saya, mereka cinta-citanya mau jadi apa nanti setelah besar?

Dengan penuh semangat anak bungsu saya spontan menjawab, “Mau jadi pengusaha kosmetik. Biar bisa tetap cantik tanpa harus keluar biaya.” Saya geli dengar jawabannya. Si Bungsu ini memang agak centil. Dia suka sekali pinjam dan mencoba-coba alat kosmetik saya. Saya tidak pernah larang, karena menurut saya mungkin dia bisa memiliki skill ber-make up dengan cara mencoba-coba sendiri. Saya kasih acungan jempol untuk cita-citanya itu.

Tapi saat saya tanya kakaknya, dia masih diam saja. Ketika saya desak, apa citanya? Dia bilang, “Aku nggak punya cita-cita!”  suaranya tegas dan penuh keyakinan, Bukan seperti anak yang masih ragu dengan apa yang dia mau di masa depannya. Tentu saya kaget sekali. Dia selama ini sekolah rajin dan selalu berprestasi di sekolahnya. Kok bisa nggak punya cita-cita?

Saya coba bujuk, “Mungkin kamu belum punya cita-cita yang pasti, tapi setidaknya kamu ingin hidup seperti apa nantinya?” Dia menggeleng. “Saya nggak tau mau jadi apa, saya mau jalani aja apa yang ada.” Setelah menjawab seperti itu, dia berdiri dan masuk ke kamarnya. 

Terus terang saya resah dengan jawaban anak sulung saya itu. Saya coba diskusikan dengan suami, awalnya suami agak kaget juga dengarnya, tapi kemudian dia bilang, “Nggak apa-apa dia belum punya cita-cita, yang penting dia semangat sekolah.”

Walau ucapan suami cukup menenangkan pikiran saya, namun saya masih merasa cemas. Apa saya kurang memotivasi anak saya sehingga dia sampai tidak punya cita-cita di usianya yang sudah menginjak remaja.

Bersama ini saya ingin mohon saran, kira-kira apa yang sebaiknya saya lakukan sebagai seroang Ibu, untuk mendampingin anak-anak saya, agar  mereka memliki masa depan yang cemerlang dan bisa mandiri secara ekonomi.

Terimakasih.

Monik – Surabaya

SARAN: Sebagai seorang ibu tentu Anda ingin anak-anak Anda memiliki masa depan yang cemerlang. Dan tanda-tanda seorang anak memiliki masa depan cemerlang antara lain dengan memiliki cita-cita yang tinggi dan jelas. Misalnya menjadi pengusaha, menjadi insinyur ataupun dokter.

Dan ketika seorang anak belum memiliki cita-cita di usianya yang sudah menjelang remaja, tentu orangtua akan merasa khawatir. Karena seakan anak tidak memiliki masa depan. Karena tanpa cita-cita bagaimana ia bisa meraih masa depannya?

Kami sangat memahami  kekhawatiran Anda. Namun tidak perlu terlalu cemas ataupun panik, karena anak yang belum memiliki cita-cita adalah hal yang sangat wajar. 

Bisa jadi anak Anda masih asyik dengan dunianya saat ini. Dia belum memiliki gambaran yang jelas tentang apa itu masa depan. Ia masih dalam fase eksplorasi.  Ia belum memiliki minat yang pasti pada hal atau bidang tertentu. Masih sering berubah-ubah.

Sebetulnya, cita-cita bukanlah kewajiban kaku. Melainkah sebuah petunjuk arah yang masih bisa berubah seiring dengan waktu. 

Lalu bagaimana orang tua harus bersikap kepada anaknya yang belum memiliki cita-cita?  Yang pasti hindari untuk memaksakan kehendak sebagai ajang pemenuhan ambisi orangtua. Misalnya, orangtua gagal menjadi dokter lalu memaksa anaknya untuk menjadi seorang dokter. 

Sebaiknya, beri ruang dan kesempatan yang luas kepada anak-anak untuk mencoba berbagai aktivitas guna menemukan minat dan bakat mereka. Bila sedang ada waktu luang, gunakan untuk  berbincang santai dengan anak-anak tentang hal-hal yang menyenangkan bagi mereka. Lalu hargai setiap usaha dan minat mereka. 

Dengan pendekatan yang penuh kasih sayang, empati dan dukungan, semoga anak-anak Anda bisa merajut masa depannya dengan penuh semangat, bahagia dan berhasil. Tetap semangat!

Iustrasi: Pinterest

#masadepananak

#cita-citaanak

#anak-anakdancita-cita

#anaktanpacita-cita

#cita-cita

#anak 

 DIAKAH KARTINI DI MASANYA?

By On April 21, 2026

Wanita bungsu dari 8 bersaudara itu berangkat merantau dari kampung halamannya, sebuah desa yang asri di lereng gunung Marapi, Sumatra Barat, menuju Yogyakarta.

Di Kota Pelajar itu dia mengambil pendidikan Bidan di sebuah rumah sakit swasta kenamaan di Yogyakarta. Setelah selesai pendidikan, dia berencana mengembangkan kariernya di Jakarta. Maka dia pun melamar kerja di Rumah Sakit Umum Pusat di Jakarta, yang kini kita kenal sebagai Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). 

Lamarannya diterima. Dan ia pun sudah bersiap-siap untuk pindah ke Jakarta. Kebetulan, ada kakak kandungnya yang tinggal di Jakarta, sehingga ia tidak perlu mencari tempat tinggal selama ia bekerja di Jakarta nantinya.

Namun jalan hidupnya berbelok, ketika seorang dokter senior, mantan gurunya di Sekolah Bidan, menawarkan untuk bekerja di Lampung. Menurut gurunya itu, Lampung masih membutuhkan banyak tenaga bidan. Jadi dia bisa mengabdi di daerah yang benar-benar membutuhkan tenaga medis. 

Kala itu, sekitar tahun 50-an, daerah Lampung masih belum seramai sekarang. Masih banyak hutan, dan untuk menuju ke daerah yang jauh dari ibukota provinsi, harus melewati jalan yang masih dipenuhi monyet-monyet bersantai di tengah jalan.

Tergerak hati wanita itu untuk mengabdikan diri di daerah yang masih membutuhkan banyak tenaga medis profesional. Ia pun menyingkirkan keinginannya untuk berkarier di kota besar, dan memilih mengabdi di kota kecil di daerah Lampung. 

Wanita yang fasih berbahasa Belanda, hobi nonton film dan membaca novel-novel berbahasa Belanda itu, dengan iklas menjadi Bidan di sebuah kota keci di pesisir selatan Lampung,  bernama Kota Agung. Tugasnya tidak hanya di dalam kota tapi juga ke kampung-kampung sekitarnya. Sebagian besar harus ditempuh mengggunakan sampan, karena harus melewati sungai besar. 

Pernah suatu kali setelah menyeberangi sungat yang deras, ia bertanya kepada Bapak pendayung sampan, “Di sungai ini ada buayanya, Pak?” spontan Bapak itu menjawab, “Untung Ibu tidak tanya saat masih di tengah sungai tadi, pamali. Karena buayanya bisa datang mendekati sampan kita.” 

Selain aktif  membantu ibu-ibu hamil atau ibu-ibu yang akan melahirkan, wanita itu juga aktif memberi edukasi kepada para wanita dewasa yang akan menikah. Dia selalu mengingatkan: “Sebagai istri nantinya, Anda harus memiliki penghasilan sendiri, berapa pun jumlahnya. Kalau tidak, untuk membeli satu buah peniti pun Anda harus minta ke suami. Belum tentu diberi, bisa jadi malah dimarahi.  Jadi wanita itu perlu mandiri secara ekonomi.“ Begitu selalu pesannya.

Dia kemudian mendapat tugas ke rumah sakit yang lebih besar di kota Pringsewu, Lampung. Dan ketika pemerintah RI menggalakkan program KB (Keluarga Berencana), wanita itu mengisi waktu luangnya, sepulang dari bekerja di RS,  memberikan penyuluhan dari rumah ke rumah kepada para ibu muda yang sudah memiliki dua atau tiga orang anak, untuk mengikuti KB. Ia menyarankan kepada para ibu itu, agar jangan membiarkan diri terus hamil dan  melahirkan. Apalagi kalau kondisi ekonomi tidak memadai.  Sehingga anak tidak terurus, rumah tangga tidak terurus dan diri sendiri juga tidak terurus.   

Menurutnya, ibu-ibu itu juga berhak untuk mengurus diri sendiri, tidak hanya melulu mengurus anak dan suami. “Wanita juga perlu memelihara dirinya agar tetap fit dan cantik.” 

Ketika wanita itu berpulang ke Sang Pencipta dalam usia 80-an, begitu banyak orang yang merasa kehilangan. Karena ia dikenal sebagai bidan yang ringan tangan membantu secara iklas pasien yang tidak mampu, membantu pendidikan anak-anak kurang mampu dengan memberi beasiswa tanpa ikatan apa pun. Banyak anak-anak yang berdagang makanan sepulang sekolah, kalau menjajakan dagangan di depan rumah ibu bidan itu, selalu diborong dagangannya. Tujuannya, agar anak itu bisa segera pulang, bermain dengan teman-temannya dan belajar. 

Meski namanya hanya dikenal di daerah tempat tinggalnya, di daerah di mana bakti dan jiwa sosialnya ia curahkan untuk masyarakat sekitarnya, namun rasanya dia tepat bila disebut sebagai Kartini di masanya. Nilai-nilai yang dia anut selaras dengan cita-cita Kartini: memberdayakan wanita Indonesia! 

Dia memang patut dikenang, setidaknya oleh saya, salah satu anaknya. 

Selamat Hari Kartini wanita-wanita hebat Indonesia.***MH

Foto ilustrasi: Pinterest

#harikartini

#kartinidimasanya

#memberdayakanwanita

#wanitaindonesia

#wanita

#ibukartini

RUJAK SERUT MENYEGARKAN SAAT CUACA PANAS

By On April 01, 2026

 

Saat cuaca sedang panas dan ingin makan camilan yang menyegarkan, Rujak Serut bisa jadi pilihan.

Bahannya sederhana saja: cukup satu macam buah, misalnya mangga ditambah dengan bumbu rujak yang medok, pedas manis. Ditanggung cuaca panas di luar rumah bukan lagi jadi masalah.


RUJAK SERUT MANGGA

Bahan:

Mangga yang masih setengah matang 1 buah ukuran sedang. 

Bumbu:

Cabe rawit hijau 5 buah

Terasi ¼ sendok teh

Gula merah 2 butir ukuran kecil

Kacang tanah goreng 1 sdm 

Garam secukupnya

Air asam jawa 1 sdm 

Cara Membuat:

Kupas dan cuci buah mangga. Lalu serut dengan alat serut sampai semua daging mangga habis.

Haluskan cabe, terasi, garam sampai halus. Lalu tambahkan kacang tanah, giling sebentar, tidak perlu sampai kacangnya halus. Tambahkan gula merah, giling sebentar. Baru kemudian tambahkan air asam jawa. Giling hingga semua bumbu tercampur.  

Campurkan bumbu rujak dengan mangga yang sudah diserut. Aduk rata. Tempatkan di wadah yang kedap udara, lalu masukkan ke dalam kulkas. Jika sudah terasa dingin, siap dinikmati.

Foto: MWDC

#rujakserutmangga

#rujakserut

#rujak

#mangga

#serut


 MEMAAFKAN MENYEHATKAN MENTAL

By On Maret 20, 2026

Hari Raya tiba. Saatnya bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. Bersyukur umat Islam memiliki momen khusus untuk saling memaafkan. Karena memafkan ternyata sangat bermanfaat, tidak hanya demi nyamannya pergaulan sosial, tapi lebih penting lagi, bagi kesehatan mental kita.

Dan mamaafkan ternyata juga sangat bagus untuk kesehatan fisik kita.

Mengurasi stres

Saat kita memberi maaf kepada seseorang, saat itu juga kita melepas rasa marah, kecewa dan dendam yang mungkin sudah tersimpan sekian lama. Dengan melepaskan semua rasa yang tidak nyaman di batin itu, mengurangi beban emosional kita dan itu sangat mengurangi stres bahkan depresi, yang  mungkin tidak kita sadari.

Memberi rasa bahagia

Ketika kata maaf terucap di bibir kita, maka seketika kita merasa nyaman. Membuat pikiran lebih lapang dan positif dan rasa bahagia pun mengalir dalam jiwa kita.

Menenangkan   

Meminta maaf mungkin berat, tapi lebih berat lagi memberi maaf. Itulah sebabnya level manfaat dari memaafkan lebih tinggi dari meminta maaf. Karena saat kita memberi maaf secara tulus, kepada seseorang yang selama ini sudah membuat kita kecewa, marah dan sedih, otomatis kita sudah bisa mengontrol emosi dengan baik. Dan rasa marah yang selama ini terpendam, sudah reda dan hilang berganti dengan rasa tenang di batin.

Menyehatkan jantung

Saat kita memaafkan, ternyata otomatis menurunkan tekanan darah dan tubuh menjadi lebih rileks. Dan kondisi ini sangat baik untuk kesehatan jantung kita.

Mengusir insomnia

Bila selama ini Anda merasa sulit tidur atau insomnia, coba ingat-ingat mungkin ada rasa marah atau kesal yang mengganjal di batin Anda. Mungkin ada kenalan, keluarga bahkan pasangan Anda yang perlu Anda maafkan kesalahannya. Mumpung ada momen Lebaran ini, manfaatkan untuk memberi maaf dan mengiklaskan apa yang sudah pernah terjadi.

Besar pahalanya  

Selain sederet manfaat untuk jiwa dan raga kita, memaafkan dalam Islam juga besar pahalanya. Karena memafkan adalah ciri orang yang bertakwa, yang mendatangkan ampunan dari Allah SWT, sekaligus juga memberi ketenangan jiwa kita.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1447 H. Mohon maaf lahir dan batin. MH

Ilustrasi: Pinterest

#momenlebaran
#salingmemaafkan
#manfaatmemaafkan
#maaf

 MEMANFAATKAN WAKTU LUANG SAAT RAMADAN

By On Februari 16, 2026

Bulan penuh berkah, Ramadan 1447 H telah hadir. Setiap Ramadan, tentu ada perubahan jadwal kegiatan. Yang pasti, bagi wanita bekerja, tidak ada acara makan siang di kantor. Sedangkan ibu rumah tangga, menunda waktu memasaknya menjadi lebih sore.

Ketika ada waktu luang di siang hari selama Ramadan, setelah usai membaca Al Quran sekaligus terjemahannya,  adakah rencana kegiatan yang sudah Anda siapkan? Bila belum ada, berikut ada beberapa ide kegiatan yang mungkin bisa Anda coba jalankan, sehingga waktu menunggu berbuka puasa terisi dengan hal positif dan produktif.

Membaca buku spiritual

Mengisi waktu luang dengan membaca buku adalah pilihan yang paling tepat. Bisa berupa buku yang ada secara fisik maupun buku elektronik atau e-book.

Banyak pilihan buku, yang bisa Anda siapkan menjelang Ramadan tiba. Meliputi genre spiritual, tafsir, dan pengembangan diri untuk meningkatkan keimanan.

Salah satu buku yang sangat dianjurkan adalah Buku Kisah Nabi Muhammad SAW, yang menceritakan sirah nabbawiyah dari kelahiran hingga wafat. Sungguh sangat bermanfaat dan sangat menarik memahami kisah hidup Rasulullah.  

Menyeleksi isi lemari

Bisa dipastikan Anda memiliki beberapa lemari di rumah. Mulai dari lemari pakaian, lemari buku, lemari makan, dan lemari es atau kulkas.

Mumpung ada waktu luang di siang hari, daripada mengantuk, manfaatkan untuk menyeleksi isi lemari-lemari tersebut.

Di lemari pakaian, mungkin ada beberapa potong busana yang sudah jarang Anda kenakan. Kondisinya masih layak pakai. Sisihkan dan bila memungkinkan, berikan kepada yang menurut Anda tepat untuk menerimanya. 

Begitu juga lemari buku. Mungkin ada koleksi buku Anda yang sudah saatnya disingkirkan. Boleh jadi masih bermanfaat untuk orang lain. Bisa juga didonasikan untuk perpustakaan umum di dekat tempat tinggal Anda. 

Sementara lemari es atau kulkas, mungkin tanpa Anda sadari masih menyimpan makanan yang sudah kadaluarsa, sehingga harus segera dibuang.  

Mencoba resep makanan

Menyiapkan menu berbuka dan sahur untuk satu bulan penuh, adalah pe-er yang lumayan menyita pikiran untuk ibu rumah tangga. Berita baiknya, kini dengan mudah kita bisa mendapatkan resep makanan, mulai dari yang sederhana, simple hingga yang setara dengan hidangan di restoran. 

Kumpulkan resep makanan, untuk berbuka dan sahur yang sesuai dengan selera keluarga Anda. Atau resep kue untuk Lebaran. Lalu berbelanja bahannya sesuai kebutuhan. Satu persatu bisa dicoba, sehingga hidangan di atas meja makan sepanjang Ramadan menjadi lebih bervariasi.

Dan mencoba resep kue Lebaran dari awal Ramadan, juga sangat menyenangkan. Karena selain bisa dicicipi hasilnya untuk berbuka, juga bisa lebih awal menyiapkan bahan-bahannya, sehingga tidak repot lagi saat Lebaran menjelang.  

Dengan melihat pilihan kegiatan saat Ramadan di atas, boleh jadi timbul ide-ide kreatif lain di benak Anda. Sehingga Ramadan kali ini waktu luang  Anda tak lagi terbuang,  tapi terisi dengan kegiatan-kegiatan lain yang menyenangkan. Selamat menyambut Ramadan & Selamat menjalankan ibadah puasa bersama keluarga tercinta.***MH

Foto ilustrasi: Pinterest

#menyambut Ramadan

#kegiatan Ramadan

#waktu luang saat Ramadan

#Puasa Ramadan

#Ramadan

#Puasa


ACAR PENAMBAH SELERA MAKAN

By On Januari 11, 2026

Acar timun nyaris selalu ada di meja warung yang menjual sop atau soto.

Menikmati sop betawi atau sop kaki kambing dengan taburan acar di atasnya auto mengangkat kelezatan hidangan.

Nasi goreng disantap dengan acar pun bisa jadi pilihan cerdas.

Ingin punya acar di atas meja & siap disantap kapan saja? Yuk coba bikin sendiri.
Caranya mudah & ditanggung hasilnya nggak kalah sedap dengan yang di warung sop.


ACAR TIMUN WORTEL

Bahan:

Timun ukuran sedang 1 buah
Wortel ukuran sedang 1 buah
Bawang merah 5 butir
Cabe rawit hijau 10 butir

Bumbu:
Cuka masak 1 sdm
Gula pasir 1 sdm
Garam 1/2 sdt
Air hangat 50 ml

Cara membuat:
Cuci bersih ketimun potong kecil bentuk dadu. Cuci lalu kupas kulit wortel, potong kecil bentuk dadu.
Kupas kulit bawang merah, cuci & potong kecil2.
Cuci cabe rawit buang tangkainya.

Taruh semua bahan dalam wadah yang ada tutupnya. Tambahkan air, garam, cuka & gula. Aduk rata. Tutup. Masukkan ke dalam kulkas sekitar 1 jam.

Siap dinikmati bersama nasi goreng, telur dadar atau sekadar hanya dengan nasi hangat. Nikmat.
Selamat mencoba. *

Foto: MWDC

#acartimunwortel
#acartimun
#acar
#timun
#wortel

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *